Tanggal 6 Agustus 2025 jadi awal perjalanan saya dan keluarga menuju Bintaro. Kami sudah merencanakan keberangkatan ini jauh-jauh hari karena akan ada kegiatan penting yang dilaksanakan keesokan harinya, tepatnya hari Kamis, 7 Agustus. Tiket pesawat sudah kami pesan seminggu sebelumnya, begitu juga dengan apartemen yang sudah kami booking di area yang dekat dengan rumah sakit—tempat kegiatan utama kami berlangsung nanti.
Namun, seperti biasa, kadang rencana tak selalu berjalan mulus. Satu hari sebelum keberangkatan, anak pertama saya tiba-tiba demam tinggi. Sore harinya, kami langsung ke apotek langganan untuk konsultasi. Dokter menyampaikan bahwa anak saya terkena radang tenggorokan. Nggak lama, anak kedua pun menunjukkan gejala serupa. Hasilnya sama: radang tenggorokan juga. Keduanya akhirnya diberikan antibiotik dan obat radang oleh dokter.
Tapi malamnya jadi semakin penuh tantangan. Demam anak saya tidak juga turun, bahkan mencapai suhu 39,1°C. Saya pun membeli paracetamol tambahan di apotek terdekat. Sekitar jam 11 malam, istri saya memberikan paracetamol tersebut ke anak kami. Malam itu saya cukup khawatir. Dalam hati, saya mulai mempertimbangkan apakah sebaiknya perjalanan ini ditunda saja.
Alhamdulillah, keesokan paginya kondisi anak saya sudah jauh lebih baik. Demamnya mulai mereda dan dia tampak lebih segar. Dengan segala pertimbangan dan doa, akhirnya saya putuskan untuk tetap berangkat sesuai rencana.
Perjalanan ini jadi pengingat bahwa di balik setiap rencana besar, seringkali ada ujian kecil yang datang diam-diam. Tapi ketika dijalani dengan sabar dan hati yang tenang, insyaAllah semua ada jalannya.