Banyak orang mengenal Steve Jobs sebagai pendiri Apple dan tokoh visioner di dunia teknologi. Tapi di balik kesuksesannya, ada kisah-kisah hidup yang penuh pelajaran. Dalam pidato wisudanya di Stanford University, Jobs tidak berbicara soal teknologi atau bisnis, tapi justru membagikan tiga cerita yang mengubah hidupnya. Tiga cerita ini tentang menyambungkan titik-titik, kehilangan dan cinta, serta kematian, menawarkan refleksi dalam tentang bagaimana kita menjalani hidup.
1. Menyambungkan Titik-Titik: Percaya pada Proses
Jobs memulai kisahnya dengan keputusan besar—drop out dari kuliah di Reed College. Meski keputusan ini membuatnya hidup pas-pasan (tidur di lantai teman, menukar botol bekas untuk makan), ia justru menemukan ketertarikan baru. Salah satunya: kelas kaligrafi.
Pelajaran estetika huruf itu tampak tidak berguna waktu itu, tapi sepuluh tahun kemudian, saat mendesain Macintosh, semua ilmu itu masuk ke dalam komputer pertama dengan tipografi indah.
Pelajaran: Kita tidak selalu bisa menghubungkan titik-titik ke depan. Tapi kalau kita percaya pada intuisi dan mengikuti rasa ingin tahu, titik-titik itu akan tersambung di masa depan. Jadi, percayalah—pada intuisi, pada hidup, pada proses.
2. Cinta dan Kehilangan: Jatuh, Bangkit, dan Berkarya Lagi
Jobs mendirikan Apple di garasi rumah orang tuanya, dan dalam 10 tahun, perusahaan itu berkembang jadi raksasa teknologi. Tapi pada usia 30, ia dipecat dari perusahaannya sendiri—sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan.
Namun, dari titik terendah itu, Jobs bangkit. Ia mendirikan NeXT, Pixar, dan bertemu istrinya. Pixar menciptakan Toy Story, dan Apple akhirnya membeli NeXT—membawa Jobs kembali ke Apple.
Pelajaran: Kadang, “obat pahit” adalah awal dari perjalanan kreatif dan pribadi yang baru. Jika kamu jatuh, jangan kehilangan semangat. Temukan apa yang kamu cintai dan kejar itu dengan sepenuh hati. Jangan pernah berhenti mencari.
3. Kematian: Hidup Seolah Hari Ini adalah Hari Terakhirmu
Jobs membagikan filosofi yang ia pegang sejak usia 17: setiap pagi, ia bertanya pada diri sendiri, “Jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya, apakah saya ingin melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bagi Jobs, mengingat kematian bukan hal yang menakutkan, tapi alat paling ampuh untuk menentukan prioritas hidup.
Pelajaran: Waktu kita di dunia ini terbatas. Karena itu, jangan sia-siakan hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Beranilah mendengarkan kata hati dan mengikuti intuisi, karena jauh di dalam diri, kamu sebenarnya sudah tahu siapa dirimu dan apa yang kamu inginkan
Artikel ini diadaptasi dari pidato Steve Jobs pada upacara wisuda di Stanford University tahun 2005 di channel YouTube Motivation Ark, dengan link YouTube video here.
atau kamu bisa menonton versi lengkapnya di YouTube:
Steve Jobs’ 2005 Stanford Commencement Address