Pernah merasa hidup itu berat, penuh tuntutan, dan kebahagiaan terasa seperti sesuatu yang sulit dijangkau? Buku The Courage to Be Disliked menawarkan perspektif baru yang cukup berani—dan mungkin akan mengubah cara kita memandang kebahagiaan, masa lalu, dan relasi antar manusia.
Buku ini ditulis dalam bentuk dialog antara seorang anak muda yang merasa tidak puas dengan hidupnya dan seorang filosofi tua yang memiliki pandangan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang. Dalam episode Book Club-nya, Ali Abdaal membahas isi buku ini dengan sangat menarik. Dan kali ini, kami di Kelas Dabay ingin membagikan kembali pelajaran-pelajaran penting dari buku tersebut.
1. Masa Lalu Tidak Menentukan Masa Depan
Salah satu pesan utama dari filosofi dalam buku ini adalah bahwa kita tidak ditentukan oleh pengalaman masa lalu kita. Alfred Adler, psikolog Austria yang menjadi dasar pemikiran dalam buku ini, menyatakan bahwa bukan pengalaman yang menentukan hidup kita, melainkan makna yang kita berikan pada pengalaman tersebut.
Ini tentu berbeda dari pendekatan psikologi Freudian yang menekankan bahwa masa lalu membentuk siapa kita hari ini. Adler justru percaya bahwa kita bisa memilih bagaimana kita menafsirkan pengalaman masa lalu dan bagaimana kita meresponsnya.
2. Emosi adalah Pilihan, Bukan Reaksi Otomatis
Menurut buku ini, emosi bukanlah sesuatu yang “menimpa” kita, melainkan sesuatu yang kita bangun untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya, ketika seseorang marah karena kopinya tumpah, Adler akan mengatakan bahwa kemarahan itu muncul karena orang tersebut memilih untuk merespons situasi itu dengan marah.
Gagasan ini memang kontroversial, namun memiliki kemiripan dengan ajaran filsafat Stoik, seperti yang diajarkan Seneca, bahwa antara stimulus dan reaksi, kita masih memiliki ruang untuk memilih respons.
3. Semua Masalah Adalah Masalah Relasi
Ide yang cukup menarik dari buku ini adalah bahwa hampir semua masalah dalam hidup kita berkaitan dengan hubungan antar manusia. Rasa takut akan penolakan, kecemasan akan penilaian orang lain, hingga konflik internal—semuanya berakar dari hubungan sosial.
Adler memperkenalkan konsep “separation of tasks,” yaitu membedakan mana yang menjadi tugas kita dan mana yang bukan. Ketika kita mencoba mengontrol hal-hal di luar kendali kita, seperti pendapat orang lain, di situlah konflik sering muncul.
4. Kebahagiaan Datang dari Kontribusi
Buku ini juga menyampaikan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari perasaan memberi kontribusi pada orang lain. Ini selaras dengan pengalaman banyak orang yang merasa lebih bermakna saat mereka bisa membantu, mengajar, atau memberi dampak positif, alih-alih hanya mencari kesenangan pribadi.
Adler menyebutnya sebagai bentuk “servant hedonism”—menemukan kebahagiaan dalam memberi dan melayani orang lain.
5. Kebebasan adalah Keberanian untuk Tidak Disukai
Ini adalah inti dari judul buku ini. Banyak dari kita hidup dengan keinginan untuk selalu disukai, namun hal itu justru menjadi beban. Adler menegaskan bahwa kebebasan sejati muncul saat kita tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada penilaian orang lain.
Memiliki keberanian untuk tidak disukai bukan berarti bersikap egois, tetapi berani untuk hidup sesuai dengan nilai dan tujuan kita sendiri.
Mengambil Inti, Menyaring Dengan Bijak
Tentu saja, tidak semua hal dalam buku ini mudah diterima begitu saja. Beberapa gagasannya cukup menantang dan perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Namun, seperti yang disampaikan oleh Ali Abdaal, tujuan kita bukan menerima semuanya secara utuh, tetapi mengambil pelajaran yang relevan dengan kehidupan kita masing-masing.
Buku The Courage to Be Disliked mengajak kita untuk melihat hidup secara lebih reflektif dan berani. Bukan sekadar menjadi “baik di mata orang,” tetapi menjadi pribadi yang merdeka, bertanggung jawab, dan bermakna.
Tulisan ini merupakan adaptasi dari video Ali Abdaal – This Book Made Me a Happier Person Kami menyarankan Anda untuk menonton videonya secara langsung jika ingin memahami sudut pandang Ali secara lebih menyeluruh.