Pada tanggal 29 Mei hingga 4 Juni, saya akhirnya mendapat kesempatan untuk kembali ke Ranah Minang, tempat penuh kenangan masa kecil sekaligus kota tempat saya menghabiskan lima tahun kuliah S1 di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Alasan utama kepulangan saya kali ini adalah untuk mengikuti tes IELTS yang diselenggarakan di UNP pada hari Sabtu. Ini adalah kali kedua saya mengambil tes IELTS, karena skor sebelumnya akan kedaluwarsa pada bulan Agustus tahun ini. Demi memenuhi persyaratan, saya pun harus mengikuti tes kembali. Tes kedua ini bukan sekadar kewajiban, tapi juga pengingat bahwa setiap usaha adalah bagian dari proses berkembang.
“Growth often happens when we push ourselves beyond our comfort zone—even if it means facing the same challenge twice.”
Perjalanan menuju Padang cukup panjang—sekitar 18 jam naik bus—dan saya tiba di sana menjelang subuh. Seperti biasa, saya menyisihkan satu hari penuh untuk beristirahat dan memulihkan tenaga sebelum “bertarung” menghadapi tes keesokan harinya.
Pada Jumat malam, saya berkesempatan bertemu dengan beberapa rekan kuliah saya semasa S2 di Universitas Pendidikan Indonesia. Kini, mereka telah menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNP. Malam itu kami bernostalgia di sebuah kafe bergaya Bandung, mengingat kembali momen-momen semasa kuliah dulu.


Keesokan harinya saya menuju lokasi tes. Menariknya, gedung tempat tes berlangsung dulunya adalah gedung rektorat ketika saya masih kuliah sekitar tahun 2009, meskipun kini fungsinya sudah berubah. Di sana, saya bertemu kembali dengan dosen Writing saya dulu, yang kini menjabat sebagai Kepala UPT Bahasa. Rasanya cukup menegangkan, apalagi ketika mengerjakan bagian Writing, karena beliau sesekali melintas memantau jalannya tes.

Tes Listening, Reading, dan Writing selesai sebelum waktu zuhur. Setelah itu, saya bergegas ke fakultas lama saya untuk salat dan makan siang karena sesi Speaking baru dimulai pukul 2 siang. Saat salat zuhur, saya bertemu dengan dua senior saya semasa kuliah, yang sekarang juga menjadi dosen di Prodi Bahasa Inggris. Rasanya waktu berjalan begitu cepat—tiba-tiba saja kami sudah sama-sama menjadi bagian dari dunia akademik.
Usai makan siang, saya kembali ke lokasi tes untuk sesi Speaking. Namun, ada sedikit kendala: suara examiner terdengar kurang jelas di awal setiap pertanyaannya, sehingga saya beberapa kali harus meminta pengulangan. Biaya tes IELTS kali ini adalah Rp3.350.000. Sore harinya, saya kembali ke guest house, berkemas, lalu melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi dengan ongkos Rp25.000. Malam itu saya menginap di sebuah guest house yang letaknya dekat dengan Jam Gadang. Cerita akan berlanjut ya ke postingan berikutnya. 🙂
