Riset menunjukkan bahwa guru punya peran penting dalam menciptakan pengalaman cooperative learning di kelas. Tugas guru bukan hanya membagi siswa ke dalam kelompok dan menjelaskan tugasnya, tetapi juga mengajarkan cara berinteraksi. Tanpa arahan yang jelas, pembicaraan tingkat tinggi yang membahas fakta, konsep, dan cara berpikir hanya muncul sesekali saja. Siswa jarang bertanya secara mendalam, jarang mengaitkan pengetahuan sebelumnya, dan jarang menjelaskan alasan kesimpulannya kalau tidak diajarkan.
Ketika siswa diajarkan untuk berbicara dan bernalar bersama serta mempraktikkan keterampilan ini, mereka mampu berdiskusi dan bernalar secara efektif. Kegiatan berbasis diskusi ini juga membantu perkembangan kemampuan bernalar, pemecahan masalah, dan pembelajaran siswa secara individu.
Guru yang dilatih untuk memediasi pembelajaran melalui pertukaran dialogis, misalnya dengan bertanya, mengklarifikasi, mengajukan saran sementara, dan mengakui jawaban siswa, membuat siswa meniru pola ini dalam interaksi mereka dengan teman sebaya. Guru yang menerapkan cooperative learning menunjukkan lebih banyak interaksi terbimbing dibanding guru yang hanya menggunakan group work biasa.
Siswa yang berada di kelompok cooperative learning juga menunjukkan lebih banyak perilaku verbal yang mendukung kerja kelompok dibanding siswa yang berada di kelompok ad hoc, yaitu kelompok yang tidak diajarkan bekerja sama. Banyak dari perilaku ini muncul karena siswa meniru interaksi timbal balik yang dicontohkan guru. Tugas yang bersifat open dan discovery-based juga mendorong terjadinya diskusi multidirectional, siswa bertukar informasi dan ide untuk menemukan solusi.
Singkatnya, penelitian menunjukkan bahwa guru dapat mengajarkan siswa cara berbicara dan bernalar bersama untuk mendorong interaksi dan pembelajaran yang lebih baik.
(Bagian dari artikel Robyn M. Gillies “Cooperative Learning: Review of Research and Practice”)