Kamu pernah kepikiran nggak sih, kalau ngobrol di kelas itu bisa jadi kunci buat ningkatin pemahaman dan prestasi anak-anak? Nah, itu yang jadi dasar dari pendekatan yang namanya Dialogic Teaching. Intinya, pendekatan ini ngajarin guru buat ngajak murid ngobrol secara mendalam — bukan cuma tanya-jawab biasa, tapi diskusi yang ngajak murid berpikir kritis, kasih alasan, debat, dan ngejelasin ide mereka.
Jadi bukan yang modelnya: “Bu, jawabannya B!” terus selesai. Tapi lebih ke: “Aku pilih B karena menurutku…” — nah, di sinilah murid ditantang buat nyambungin logika dan berani ngomong. Program ini nggak asal jalan aja. Guru-guru dapet pelatihan, dibekali video, modul cetak, sampai mentoring langsung di sekolah biar bener-bener paham gimana caranya bawa cara ngobrol kayak gini ke kelas — entah itu di pelajaran English, math, atau science.
Apa Hasilnya?
Program ini udah pernah dites di UK, dan hasilnya ternyata solid banget. Anak-anak kelas 5 yang ikut program ini bisa dapet kemajuan setara 2 bulan tambahan belajar di pelajaran English dan science, dan sekitar 1 bulan tambahan di math. Bahkan buat anak-anak yang dapet free school meals (semacam beasiswa), hasilnya sama kerennya. Jadi pendekatan ini bekerja across the board, bukan cuma buat anak-anak yang udah unggul.
Yang menarik, pelatihannya sendiri nggak spesifik ke satu pelajaran doang. Jadi kemungkinan besar, anak-anak memang jadi lebih pinter mikir dan belajar secara umum, bukan cuma nambah hafalan pelajaran tertentu.
Tapi Emang Gampang Diterapin?
Well, nggak juga. Banyak guru bilang mereka butuh waktu lebih dari dua semester buat benar-benar ngejalanin pendekatan ini secara maksimal. Nggak heran sih, soalnya ini bukan cuma soal teknik ngajar, tapi juga mindset. Lo harus ubah cara lo ngomong ke murid, cara lo nanya, dan cara lo merespons jawaban mereka.
Tapi sebagian besar guru, kepala sekolah, dan mentor yang ikut program ini ngerasa pendekatan ini bikin murid lebih pede, lebih aktif, dan lebih nyambung sama materi pelajaran. Jadi meskipun butuh waktu, hasilnya worth it banget.
Sayangnya, waktu pendekatan ini dicoba buat diuji ke hasil ujian nasional (KS2), nggak kelihatan ada efek signifikan. Tapi perlu dicatat juga, banyak sekolah kemungkinan nggak sempat implementasi penuh program ini di tahun ujian, jadi wajar kalau hasilnya belum maksimal. Evaluasi lanjutan juga belum dilakukan.
Terus Gimana Ke Depannya?
EEF, organisasi yang ngelakuin riset ini, rencananya bakal explore model yang bisa diterapkan di lebih banyak sekolah. Mereka juga nyaranin buat ngelanjutin penelitian supaya bisa tahu mana bagian dari program ini yang paling ngefek— apakah dari pelatihannya, dari videonya, dari mentoring-nya, atau kombinasi semuanya.
Disclaimer: Artikel ini merupakan ringkasan dan parafrase dari publikasi asli yang ditulis oleh education endowment foundation. Seluruh ide inti tetap mengacu pada sumber tersebut; penulis hanya mengadaptasi gaya bahasa agar lebih mudah dipahami pembaca umum. Versi lengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut: Dialogic Teaching – Education Endowment Foundation (EEF)
Wow, I didn’t know that. It’s so informative!
Thanks