Pendidikan adalah salah satu penentu utama masa depan sebuah bangsa, ia bisa membuat masyarakat lebih sehat, lebih makmur, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Tapi, seperti apa sebenarnya sistem pendidikan terbaik itu? Dan negara mana yang paling berhasil mendidik generasi mudanya?
Dalam episode BBC The Global Story, jurnalis Lucy Hawkins berbincang dengan dua narasumber: Sean Cochran, mantan koresponden pendidikan BBC, dan Prof. John Jerram dari University College London. Bersama, mereka menelusuri berbagai data dan fakta seputar sistem pendidikan dunia, khususnya dari hasil tes internasional bernama PISA.
Apa Itu Tes PISA?
Tes PISA (Programme for International Student Assessment) dikembangkan oleh OECD untuk mengukur kemampuan anak usia 15 tahun di berbagai negara dalam membaca, matematika, dan sains. Tes ini dirancang bukan oleh pendidik, tapi oleh ekonom—dengan logika yang sama seperti menilai pertumbuhan ekonomi atau inflasi. Hasilnya? Kita bisa membandingkan performa sistem pendidikan antarnegara secara langsung.
Negara-negara Asia Timur seperti Singapura, Korea Selatan, dan Hong Kong secara konsisten menempati peringkat atas. Estonia dan Finlandia juga mendapat pujian tinggi, meskipun performa Finlandia mulai menurun belakangan ini. Di sisi lain, negara-negara dengan pendapatan rendah atau sistem pendidikan yang belum stabil, seperti di beberapa bagian Amerika Latin, Afrika, atau Timur Tengah, masih tertinggal jauh.
Menariknya, negara-negara besar seperti Inggris, Jerman, atau Amerika Serikat, yang kita anggap mapan dan maju, ternyata tidak selalu tampil memukau. Misalnya, skor rata-rata pendidikan di AS tergolong biasa saja, meskipun beberapa negara bagian seperti Massachusetts tampil sangat baik.
Apa Rahasianya?
Ada benang merah dari negara-negara dengan skor PISA tinggi:
Fokus pada kesetaraan akses pendidikan, bukan hanya hasil akademik. Investasi serius dalam pendidikan, termasuk pelatihan guru dan kualitas pengajaran. Negara kecil dengan sumber daya alam terbatas cenderung melihat pendidikan sebagai jalan keluar untuk membangun ekonomi dan masa depan mereka. Budaya yang mendukung pendidikan, termasuk harapan tinggi terhadap siswa dari semua latar belakang.
Namun, para ahli menekankan bahwa tidak ada resep ajaib. Strategi yang berhasil di satu negara belum tentu cocok di tempat lain. Yang jelas, perubahan itu mungkin. Negara bisa memilih untuk memperbaiki sistem pendidikannya, dan keputusan itu bersifat politis, bukan takdir.
Sayangnya, jutaan anak-anak di dunia masih tidak punya akses ke pendidikan. Konflik, kemiskinan, perubahan iklim, dan korupsi jadi hambatan utama. Kasus Afghanistan menjadi contoh ekstrem: saat ini, anak perempuan di atas usia 12 tahun tidak diizinkan bersekolah oleh rezim Taliban.
Kurangnya pendidikan bukan hanya soal tidak bisa membaca, tapi juga berkaitan dengan peluang ekonomi, kesehatan, dan bahkan risiko terlibat dalam kekerasan atau ekstremisme.
Sistem pendidikan terbaik bukan hanya tentang nilai tertinggi atau peringkat teratas. Ia tentang memberikan kesempatan yang adil bagi semua anak, mengembangkan potensi mereka secara holistik, dan mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang makin kompleks.
Dan seperti kata Sean Cochran, masa depan ekonomi suatu negara bisa dilihat dari kelas-kelas di sekolah hari ini.
Sumber:
BBC World Service – The Global Story: Who Has the World’s Best Education System?
Episode dipandu oleh Lucy Hawkins, bersama Sean Cochran dan Prof. John Jerram
[Didengarkan melalui podcast resmi BBC]