Pepatah “engkau bisa membawa kuda ke air, tapi tidak bisa memaksanya untuk minum” mengingatkan kita bahwa motivasi sejati datang dari dalam diri. Dalam konteks belajar, guru, mentor, atau teman hanya bisa memberikan bimbingan, sumber daya, dan arahan. Namun, keputusan untuk benar-benar belajar, memahami, dan bertumbuh ada di tangan kita sendiri. Sama seperti dalam hidup, “kalau engkau tidak menjalani hidup demi dirimu sendiri, siapa yang akan menjalaninya demi dirimu?” Begitu pula dengan belajar—tidak ada orang lain yang bisa menyerap ilmu untuk kita.
Belajar yang efektif membutuhkan rasa ingin tahu dan tekad yang kuat. Seseorang bisa diberi akses ke buku terbaik, kursus termahal, atau teknologi tercanggih, tetapi tanpa niat untuk belajar, semua itu akan sia-sia. Pepatah ini menegaskan pentingnya tanggung jawab pribadi—bahwa kesuksesan belajar bukan semata hasil dari fasilitas, melainkan dari komitmen untuk benar-benar “meminum” ilmu yang tersedia. Sama seperti hidup, kita tidak bisa berharap orang lain yang akan menanggung konsekuensi dari keputusan kita; kita sendirilah yang harus aktif memanfaatkannya.
Motivasi intrinsik—dorongan dari dalam diri—adalah bahan bakar utama untuk belajar jangka panjang. Saat kita menyadari tujuan belajar dan mengaitkannya dengan impian atau kebutuhan hidup, proses belajar menjadi lebih bermakna. Ini seperti kuda yang memilih untuk minum karena haus, bukan karena dipaksa. “Kalau engkau tidak menjalani hidup demi dirimu sendiri, siapa yang akan menjalaninya demi dirimu?”—kalimat ini mengingatkan bahwa kita sendirilah yang paling bertanggung jawab atas masa depan dan pencapaian kita.
Peran guru dan lingkungan belajar tetaplah penting, tetapi lebih sebagai pemandu jalan. Mereka dapat memberikan inspirasi, dukungan, dan arahan yang benar. Namun, jika kita tidak mau mengambil langkah aktif, hasilnya tetap tidak akan maksimal. Sama seperti hidup yang tidak bisa dijalani oleh orang lain untuk kita, belajar pun adalah perjalanan pribadi yang harus dijalani sendiri dengan tekad dan kesadaran penuh.
Akhirnya, pepatah ini memberi pesan yang sederhana namun mendalam: kesempatan belajar ada di mana-mana, tetapi hanya mereka yang benar-benar ingin berkembang yang akan meraih manfaatnya. Jika kita ingin sukses, kita perlu menjadi “kuda” yang memilih untuk minum—mengambil ilmu, memprosesnya, dan menggunakannya untuk mengubah hidup kita. Karena pada akhirnya, “kalau engkau tidak menjalani hidup demi dirimu sendiri, siapa yang akan menjalaninya demi dirimu?”—sebuah pengingat bahwa hanya kita yang bisa menentukan seberapa jauh kita akan melangkah dan bertumbuh.
This is a reflection piece after reading the book The Courage to Be Disliked, and honestly, it feels really relevant to the kind of instant, fast-paced life we all live in today.