Selama ini kita sering mendengar bahwa sarapan adalah waktu makan paling penting dalam sehari. Tapi, bagaimana kalau ternyata yang lebih penting bukan apa yang kita makan, melainkan kapan kita makan?
Cynthia Thurlow, seorang praktisi kesehatan dan nutrisi fungsional dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, membagikan strategi yang diyakininya paling berdampak dalam hal kesehatan dan penuaan: intermittent fasting alias puasa intermiten. Dalam praktiknya merawat pasien perempuan, Cynthia menyaksikan sendiri betapa pola makan modern seperti ngemil terus-menerus dan makan terlalu sering justru memperburuk kesehatan.
Dibandingkan tahun 1970-an, saat kebanyakan orang makan tiga kali sehari tanpa ngemil, kini banyak orang makan tiga kali plus ngemil sepanjang hari. Ini membuat pankreas dan sistem pencernaan bekerja terus-menerus tanpa jeda, mengganggu penyerapan nutrisi. Banyak dari kita juga menjadi “sugar burner”, tubuh mengandalkan glukosa sebagai bahan bakar utama, yang kurang efisien dan membuat kita mudah lapar, moody, dan sulit menurunkan berat badan.
Apa Itu Intermittent Fasting?
Intermittent fasting (IF) adalah pola makan di mana kita tidak makan selama periode waktu tertentu dan hanya makan di jendela waktu yang telah ditentukan. Pola yang umum digunakan adalah 16:8, yaitu 16 jam puasa dan 8 jam waktu makan. Dalam kondisi puasa, kadar insulin menurun, tubuh bisa mulai membakar lemak, dan terjadi proses autophagy (“pembersihan sel”) yang hanya terjadi saat kita tidak makan.
Manfaat Intermittent Fasting:
- Membakar lemak, terutama lemak visceral di perut
- Meningkatkan kejernihan berpikir dan fokus
- Merangsang hormon pertumbuhan (untuk menjaga massa otot)
- Memicu autophagy, proses “detoksifikasi sel”
- Menurunkan tekanan darah dan kadar insulin
- Mengurangi risiko penyakit seperti kanker dan Alzheimer
Tips Memulai Intermittent Fasting:
- Mulai perlahan, misalnya puasa 12-13 jam dan tingkatkan secara bertahap
- Pastikan cukup hidrasi (air putih, teh atau kopi tanpa gula diperbolehkan saat puasa)
- Konsumsi makanan utuh dan bernutrisi saat waktu makan tiba: protein berkualitas, lemak sehat (seperti alpukat, minyak kelapa, kacang), dan karbohidrat kompleks (sayur hijau, ubi, quinoa)
- Hindari gula dan alkohol berlebihan
Coba IF selama minimal 30 hari untuk melihat hasilnya
Cynthia menekankan bahwa IF bukan solusi instan, tapi bisa menjadi pendekatan yang berkelanjutan dan berdampak besar. Alih-alih membeli suplemen mahal, cobalah strategi yang gratis, fleksibel, dan sederhana ini untuk memulai perjalanan menuju kesehatan yang lebih baik.
Adaptasi dari video: “Intermittent fasting: Transformational technique to health & aging | Cynthia Thurlow | TEDxGreenville”