(Bagian dari artikel Robyn M. Gillies “Cooperative Learning: Review of Research and Practice”)
Kalau di postingan Kelas Dabay sebelumnya kita sudah bahas lima komponen kunci cooperative learning, kali ini kita lanjut ke topik berikutnya: komposisi kelompok dan jenis tugas. Dua hal ini sering dianggap sepele, padahal sangat menentukan keberhasilan kerja sama belajar di kelas.
Kenapa komposisi kelompok penting?
Hasil meta-analisis Lou dkk. (1996) menunjukkan bahwa siswa di SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi lebih berhasil belajar ketika mereka bekerja dalam kelompok kecil di kelas dibandingkan belajar secara individual.
Kelompok 3–4 orang biasanya memberi hasil lebih baik daripada kelompok yang lebih besar (5–7 orang) karena kelompok besar cenderung seperti kelas besar lagi: informasi hanya “diterima” bukan dibangun bersama.
Yang menarik, efek komposisi kemampuan juga berbeda:
- Siswa berkemampuan rendah lebih banyak belajar di kelompok heterogen (campuran kemampuan).
- Siswa kemampuan sedang lebih diuntungkan di kelompok homogen (kemampuan setara).
- Untuk siswa berkemampuan tinggi, komposisi tidak begitu berpengaruh.
Meta-analisis Lou dkk. (2001) tentang penggunaan teknologi juga mendukung temuan ini. Belajar kelompok kecil dengan bantuan teknologi memberi dampak positif yang lebih besar terhadap prestasi dan kinerja kelompok dibanding belajar sendiri dengan komputer. Bahkan pada pembelajaran jarak jauh (Lou, Bernard & Abrami, 2006), mahasiswa yang berdiskusi secara asinkron (misalnya lewat forum diskusi atau email) unggul dibanding teman-teman mereka yang hanya mendapat pembelajaran tatap muka di kelas. Diskusi ini memberi ruang untuk feedback, bantuan, refleksi, peer modelling, dan mentoring yang membantu keterampilan metakognitif dan self-regulated learning.
Pentingnya jenis tugas kelompok
Selain komposisi, jenis tugas juga mempengaruhi interaksi siswa. Cohen (1994) menemukan bahwa interaksi antarsiswa sangat krusial bagi keberhasilan aktivitas kelompok kecil. Guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa bekerja sama pada tugas terbuka dan berbasis penemuan yang tidak memiliki satu jawaban benar. Suksesnya tugas seperti ini mengharuskan siswa saling berinteraksi, berbagi informasi, strategi pemecahan masalah, keterampilan, dan sumber daya yang tidak dimiliki satu orang saja.
Cohen juga menekankan pentingnya:
- Mencapai sintesis dari semua kontribusi anggota.
- Ekspektasi bahwa hasil kelompok akan dipresentasikan ke kelas.
Ketika struktur seperti ini diterapkan, siswa jadi lebih interaktif, berbagi ide secara lebih merata, berbicara lebih panjang per giliran, dan memberikan elaborasi yang lebih dalam untuk menjelaskan masalah yang sedang dipecahkan.
Kesimpulan
Hasil berbagai meta-analisis (Lou et al., 1996, 2001, 2006) menunjukkan bahwa siswa mendapat manfaat akademik dan sosial ketika belajar secara kooperatif dibanding bersaing atau belajar sendiri. Siswa lebih mungkin mencapai hasil yang baik jika mereka:
- Bekerja dalam kelompok berisi empat orang atau kurang.
- Bekerja dalam kelompok campuran kemampuan (heterogen).
- Menghadapi tugas yang mengharuskan mereka berinteraksi dan berbagi sumber daya.
Apa selanjutnya?
Di postingan berikutnya di Kelas Dabay, kita akan bahas peran guru dalam memfasilitasi kerja sama antar siswa. Bagaimana guru bisa menciptakan iklim kelas yang kondusif, memberi arahan, dan mendukung siswa supaya benar-benar belajar kooperatif? Stay tuned untuk topik “The Teacher’s Role in Promoting Cooperation among Students”.