Musim gugur tahun 2024, saya bersama teman-teman mengikuti Pre‑doctoral program di the University of Galway, Galway, sebuah kota menawan di pantai barat Irlandia. Galway berada di tepi Teluk Galway, tempat Sungai Corrib bermuara ke Samudra Atlantik. Kota ini terkenal dengan musik jalanan yang semarak, budaya seni yang kaya, serta pemandangan alam yang memukau.
Kami tinggal di sana selama tujuh minggu, tepat saat musim gugur (fall) tiba. Biasanya, suhu siang hari sekitar 14 °C dan malam hari sekitar 4 °C, dengan curah hujan yang cukup tinggi dan angin kencang dari Atlantik. Pada beberapa malam tertentu, suhu bahkan sempat turun hingga 0 °C sehingga jaket windproof yang kami pakai pun terasa tidak cukup untuk menahan hawa dingin.
Suatu malam yang tak terlupakan, hujan dan angin kencang berganti menjadi salju ringan yang jarang terjadi di Galway. Keesokan paginya, seharusnya kami masuk kelas pukul 08.00a.m., tetapi guru kami memutuskan untuk menunda pelajaran. Beliau justru mengajak kami keluar untuk menikmati salju dan berjalan-jalan di sekitar kampus University of Galway.
Momen itu benar-benar menjadi pengalaman yang sangat menarik dan menyenangkan bagi kami semua. Rasanya seperti hadiah kecil dari alam. Salju yang datang secara tak terduga membuat kami semakin menikmati kebersamaan dan suasana musim gugur di Irlandia. Bagi kami, itu bukan sekadar perjalanan akademis, tetapi juga kenangan indah yang akan selalu kami ingat.

