Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam menggunakan mini bus, saya akhirnya tiba di Bukittinggi. Sebelum menuju guest house, saya terlebih dahulu salat di sebuah masjid dan dijemput oleh teman saya, Affandi—yang biasa saya panggil Fandi. Kami sempat mampir ke sebuah rumah makan bernama Sarua Keneh yang berada dekat masjid. Di sana kami mengobrol santai sambil menikmati hidangan yang lezat. Setelah itu, barulah saya menuju guest house syariah yang lokasinya hanya sekitar 50 meter dari Jam Gadang, ikon kota yang selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Setelah beristirahat sejenak, pukul 20.00 saya keluar menikmati udara malam yang sejuk di Bukittinggi. Banyak warga dan pengunjung yang berkumpul di sekitar taman Jam Gadang, menikmati suasana kota yang tenang namun hidup. Tak ingin melewatkan kesempatan, saya mencoba kuliner lokal—mie ayam di depan KFC Bukittinggi.
Pagi harinya, saya berjalan mengelilingi sekitar guest house dan akhirnya mengunjungi kebun binatang lokal, tempat kenangan masa kecil kembali muncul—tempat yang dulu sering saya kunjungi bersama keluarga. Lalu saya melanjutkan perjalanan ke Benteng Fort de Kock, benteng peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1825 dan kini menjadi taman sejarah dengan panorama kota yang indah. Suasana di sana sangat syahdu, semakin terasa karena udara sejuk khas Bukittinggi.
Siang harinya, saya menemui om dan tante saya—om saya sekarang berusia 85 tahun—dan menginap bersama mereka selama kurang lebih tiga hari. Beliau masih sama seperti dulu, dengan penampilan dan cara bicara yang mengingatkan saya pada masa kuliah. Menginap di rumah beliau memberi ruang bagi saya untuk bernostalgia, terutama saat kami berjalan pagi di pinggiran sawah, mengenang masa lalu dengan hangat. Saya pun ke pasar Padang Lua untuk menikmati Lontong Pical yang sangat legend.


Saya juga menyusuri kota Bukittinggi dengan sepeda motor yang dulu saya gunakan semasa kuliah—rasanya seperti bernostalgia dua kali! Hari-hari yang saya habiskan bersama om di kota ini menyusupkan kehangatan dan rasa syukur atas perjalanan hidup yang kembali membawa saya ke tempat yang penuh kenangan.

“Every journey, no matter how familiar, always brings a new lesson to learn.”
