Dalam perjalanan hidup, kita sering kali dihadapkan pada situasi yang terasa membingungkan, melelahkan, bahkan seolah tanpa harapan. Namun, Islam mengajarkan satu prinsip penting yang bisa menjadi penopang saat semua terasa berat: husnudzon billah, atau berprasangka baik kepada Allah.
Dalam sebuah hadits qudsi yang agung, Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan bahwa Allah berfirman:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka berprasangkalah kepada-Ku sesuai yang dia inginkan.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, bagaimana kita memandang Allah akan sangat menentukan bagaimana pertolongan-Nya hadir dalam hidup kita. Jika kita yakin bahwa Allah Maha Penyayang, Maha Pengasih, dan Maha Menolong, maka pertolongan itu akan datang—meski mungkin tidak selalu sesuai waktu atau cara yang kita harapkan.
Kisah Hajar: Teladan Husnudzon Sepanjang Zaman
Salah satu kisah paling menyentuh dalam sejarah Islam adalah tentang Hajar, istri Nabi Ibrahim. Ia ditinggalkan di lembah tandus bersama anaknya yang masih bayi, Ismail. Tidak ada sumber air, tidak ada manusia lain, dan tidak ada tempat berlindung. Namun, ketika Hajar tahu bahwa ini adalah perintah Allah, ia mengucapkan kalimat yang luar biasa:
“Kalau ini dari Allah, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Keyakinan itulah yang menjadi titik balik. Dari tanah kering dan sepi, Allah pancarkan air zamzam. Dari tempat terpencil itu, lahirlah kota Mekkah, pusat spiritual umat Islam. Dari keteguhan Hajar, Allah turunkan keberkahan yang tak terhitung, bahkan hingga kini umat Islam meneladani langkah-langkahnya saat berhaji.
Tujuh Momen di Mana Kita Harus Husnudzon
Ceramah ini menyebutkan tujuh kondisi penting di mana seorang Muslim dituntut untuk berpikir positif kepada Allah. Setiap momen ini menggambarkan tantangan yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari:
- Ketika Menghadapi Krisis Keuangan
Saat pendapatan menurun, pekerjaan hilang, atau usaha mengalami kerugian, jangan langsung menyerah. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa siapa pun yang hanya bergantung kepada manusia untuk mengatasi kesulitan finansial, maka kesulitannya tidak akan terselesaikan. Namun, jika seseorang bergantung kepada Allah, rezekinya akan datang—cepat atau lambat. - Ketika Diuji dengan Penyakit
Ujian berupa sakit—baik fisik maupun emosional—bisa jadi adalah cara Allah mengangkat derajat kita. Bisa jadi ada tempat istimewa di surga yang Allah inginkan untuk kita, tapi amal kita belum cukup mencapainya. Maka, Allah beri ujian agar kita lebih dekat kepada-Nya. - Ketika Mengalami Ketidakadilan
Jika sedang dizalimi, difitnah, atau dirugikan secara tidak adil, yakinlah bahwa doa orang yang terzalimi langsung menembus langit. Tidak ada tabir antara doa tersebut dan Allah. Bahkan, sekalipun orang yang dizalimi itu bukan Muslim, Allah tetap mendengar doanya. - Ketika Doa Belum Juga Dikabulkan
Kita sering bertanya-tanya, “Sudah berdoa lama, mengapa belum juga terkabul?” Jawabannya adalah karena Allah Maha Tahu kapan waktu terbaik untuk mengabulkan. Terkadang, keterlambatan itu justru bentuk kasih sayang-Nya. Tidak setiap keinginan kita baik untuk kita dalam jangka panjang. - Saat Bertobat dan Ingin Kembali kepada Allah
Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni oleh Allah. Asalkan seseorang datang dengan hati yang tulus dan harapan bahwa Allah akan menerima tobatnya, maka lautan ampunan-Nya akan terbuka lebar. Bahkan, dosa yang sebesar gunung pun bisa berubah menjadi kebaikan jika disertai dengan taubat yang sungguh-sungguh. - Ketika Menghadapi Ajal
Di saat-saat terakhir kehidupan, seorang Muslim dianjurkan untuk berharap yang terbaik dari Allah. Nabi ﷺ bersabda bahwa tidak seharusnya seseorang meninggal kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah. Rasa takut seharusnya berubah menjadi rindu untuk bertemu dengan Dzat yang selama ini menjadi sumber segala kebaikan. - Ketika Melihat Kezaliman Besar di Dunia
Dalam konteks penderitaan seperti yang terjadi di Gaza, mungkin kita sulit untuk tetap husnudzon. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kezaliman tidak pernah abadi. Firaun pun akhirnya tenggelam karena kezalimannya. Apa yang tampak seperti akhir dari segalanya, bisa jadi adalah awal dari kebangkitan yang Allah persiapkan.
Antara Harapan dan Tindakan
Namun, penting untuk dibedakan antara harapan yang sehat dan harapan yang pasif. Imam Ibn Qayyim menyampaikan bahwa husnudzon yang benar adalah ketika prasangka baik kita kepada Allah mendorong kita untuk bertindak. Jika keyakinan membuat kita berusaha lebih giat, memperbaiki diri, dan mencari solusi bagi umat, maka itulah bentuk husnudzon yang sejati. Tetapi jika keyakinan itu justru membuat kita pasif, menunggu keajaiban tanpa ikhtiar, maka itu bukan husnudzon—itu delusi.
Mari kita belajar untuk terus berpikir baik kepada Allah, bahkan ketika semuanya terasa berat. Karena sering kali, justru di tengah kegelapan, Allah menumbuhkan cahaya yang paling terang.
Sumber: Ceramah Ustadz Ali Hammuda – dengan link video https://www.youtube.com/watch?v=GOyzmT8EQlw