Banyak guru sudah mencoba cooperative learning dengan cara menempatkan siswa dalam kelompok. Namun menurut penelitian, sekadar membagi kelompok belum tentu membuat siswa mau dan bisa bekerja sama. Sering kali justru muncul masalah seperti kebingungan, konflik, atau ada anggota yang hanya ikut nama saja atau free rider.
Berdasarkan artikel Robyn M. Gillies berjudul Cooperative Learning: Review of Research and Practice, ada lima komponen kunci yang perlu ada agar cooperative learning berjalan efektif. Berikut pembahasannya dengan bahasa sederhana.
1. Positive Interdependence atau Saling Ketergantungan Positif
Setiap anggota kelompok harus paham bahwa keberhasilan mereka saling terkait. Jika satu berhasil maka yang lain juga ikut berhasil. Hal ini membuat mereka mau berkoordinasi dan bekerja sinkron. Guru dapat menciptakan kondisi ini dengan memberikan tugas yang berbeda kepada setiap anggota yang semuanya diperlukan untuk mencapai tujuan kelompok.
2. Promotive Interaction atau Interaksi Saling Mendukung
Anggota kelompok perlu aktif membantu dan mendorong satu sama lain. Mereka berbagi sumber belajar, memberi umpan balik, mengklarifikasi ide bahkan menantang argumen dengan cara yang konstruktif. Ini bukan hanya menguntungkan penerima bantuan tetapi juga membuat pemberi bantuan semakin memahami materi. Guru dapat mendukung interaksi ini dengan menata posisi duduk agar siswa mudah berdiskusi dan saling melihat wajah teman sekelompok.
3. Individual Accountability atau Tanggung Jawab Individu
Setiap anggota bertanggung jawab atas bagian tugasnya sendiri sekaligus membantu teman satu tim. Guru dapat memastikan hal ini dengan membuat kontribusi masing masing terlihat jelas misalnya melalui penilaian individu dalam proyek kelompok.
4. Social Skills atau Keterampilan Sosial
Kerja kelompok yang sukses memerlukan keterampilan sosial seperti mendengarkan aktif, berbagi ide dan sumber daya, memberi komentar yang membangun, bertanggung jawab atas perilaku sendiri dan mengambil keputusan secara demokratis. Penelitian Gillies dan Ashman menunjukkan bahwa siswa yang dilatih keterampilan ini lebih inklusif, lebih menghargai pendapat teman dan memberikan penjelasan lebih mendalam dibanding siswa yang tidak dilatih.
5. Group Processing atau Refleksi Kelompok
Kelompok perlu merefleksikan apa yang sudah mereka capai, apa yang belum dan bagaimana cara memperbaikinya. Diskusi reflektif ini terbukti meningkatkan prestasi siswa sekaligus memperkuat rasa hormat komitmen dan identitas kelompok.
Kenapa Penting
Dari berbagai penelitian yang direview Gillies, Slavin, Johnson dan Johnson terlihat jelas bahwa cooperative learning yang terstruktur dengan baik mampu meningkatkan prestasi akademik sekaligus keterampilan sosial siswa. Cooperative learning bukan hanya soal kerja kelompok tetapi juga tentang bagaimana kelompok itu dibentuk didampingi dan difasilitasi.
Contoh Praktis Penerapan Cooperative Learning di Kelas
Agar kelima komponen di atas terasa nyata, guru bisa mencoba langkah-langkah sederhana berikut ini.
Positive Interdependence
Bagi tugas proyek kelompok menjadi beberapa bagian berbeda. Misalnya dalam membuat poster, satu siswa bertugas mencari informasi, satu siswa mendesain poster, satu siswa menulis teks, satu siswa mempresentasikan hasil. Semua bagian harus digabung untuk hasil akhir sehingga setiap siswa merasa punya peran penting.
Promotive Interaction
Atur posisi duduk supaya siswa saling berhadapan. Beri panduan bagaimana cara memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan, atau menanggapi ide teman secara positif. Awalnya guru bisa memberi contoh kalimat yang sopan untuk diskusi.
Individual Accountability
Setelah kelompok menyelesaikan tugas, minta setiap siswa melaporkan bagian yang mereka kerjakan atau berikan kuis singkat individual tentang materi yang dibahas kelompok. Dengan cara ini setiap siswa merasa bertanggung jawab.
Social Skills
Latih keterampilan sosial secara eksplisit. Bisa dimulai dengan role-play atau simulasi cara mendengarkan aktif, berbagi ide, memberi komentar konstruktif, dan mengambil keputusan bersama. Beri apresiasi saat siswa mempraktikkan keterampilan tersebut.
Group Processing
Di akhir kegiatan, beri waktu singkat untuk refleksi kelompok. Minta mereka menjawab tiga pertanyaan sederhana: apa yang sudah kami capai, apa yang masih perlu diperbaiki, bagaimana caranya memperbaiki. Guru bisa memandu diskusi refleksi ini supaya tetap fokus.
Dengan langkah-langkah sederhana ini, cooperative learning menjadi lebih terarah dan memberi manfaat nyata bagi prestasi akademik dan keterampilan sosial siswa.
💡 Catatan: Artikel ini diadaptasi dari Cooperative Learning: Review of Research and Practice karya Robyn M. Gilliesuntuk membantu guru memahami dan mempraktikkan cooperative learning secara lebih efektif.